Situs bersejarah Bale Beleq memiliki beberapa versi mengenai awal proses pembangunannya baik dari cerita lisan maupun beberapa bukti yang ditemukan di lokasi tersebut. Secara etimologis, Bale berarti rumah Beleq berarti besar. Dan secara harfiah Bale Beleq merupakan bangunan rumah besar dimiliki oleh tokoh besar atau tokoh berpengaruh di desa tersebut pada masa itu.
Bale Beleq dibangun oleh 2 orang bersaudara. Dikatakan bersaudara karena dilihat dari namanya yang dikenal dengan Mas Nyake 1 dan 2. Namun terkait tahun berapa Bale Beleq dibangun sampai saat ini belum diketahui secara pasti, dikarenakan belum ditemukannya data konkret maupun hasil penelitian lebih lanjut terkait tahun pendirian bangunan tersebut. Karena menurut narasumber (Dr. Sirajun Nasihin, M.Pd) dan beberapa masyarakat lokal yang sudah bertanya kepada orang - orang tua zaman dulu terkait kapan tahun didirikannya bangunan ini jawabannya selalu sama yakni “bangunan ini sudah kami dapati disini dan seperti ini sedari kecil “. Mas Nyake 1 dan 2, keduanya merupakan tokoh agama (Ulama) yang menyebarkan syiar islam di Pulau Lombok wilayah Selatan. Pembangunan Bale Beleq merupakan tempat untuk mempersiapkan diri untuk membangun masjid. Jadi dapat dikatakan bahwa masjid ketika dibangun kedua ulama ini menjadikan Bale Beleq sebagai rumah atau tempat tinggal mereka. Namun menurut pengakuan dari narasumber cerita pembangunan Bale Beleq versi pertama belum diketahui secara pasti alur ceritanya baik dari awal mula pembangunan hingga akhir dari pembangunan bangunan tersebut.
Bale Beleq dibangun oleh seorang yang disebut Datu (merupakan sebutan bagi tokoh agama yang mempunyai kharisma karomah). Masyarakat desa meyakini Datu ini diperkirakan datang dari arah selatan yang dikenal dengan sebutan Datu Seremongkot. Datu Seremongkot datang bersama dengan pengawalnya yang kedatangannya diawali dengan pembuatan sumur pertama yang dinamakan dengan Lingkok Tutuk. Dikarenakan Datu dan pengawalnya ini sudah menemukan kebutuhan primernya yakni sumber mata air dari Lingkok Tutuk yang sangat melimpah, maka keduanya melanjutkan rencananya yakni membangun tempat tinggal dan masjid yang posisinya ditentukan oleh hasil lemparan batu dan alat pembuaatan sumur oleh pengawalnya, yang dimana posisi jatuhnya batu akan dibangun sebuah rumah yang dikenal dengan sebutan Bale Beleq, sedangkan posisi jatuhnya alat pembuatan sumur (Galih Gunde Kayu Hutan) akan dibangun sebuah Masjid.
Hal ini didukung dengan pernyataan narasumber yang menyatakan bahwa “batu yang dilempar itu ditemukan tepat di tempat pembangunan bale beleq saat ini, dibuktikan dengan adanya batu tersebut tepat didalam Bale Bleq dengan keadaan yang rata dengan lantai dan posisinya tepat berada di tengah Bale Beleq. Sedangkan untuk alat penggali sumur ditemukan tepat pada lokasi pendirian masjid saat ini.
Dari hasil pernyataan Haji Lalu Muh. Nuh yang mendengar langsung cerita dari TGH. Moh. Mutawwali, Masyarakat desa meyakini bahwa agama Islam disebarkan di Lombok khususnya daerah Selatan oleh ulama dari Timur Tengah yang berasal dari Yordania menggunakan akses tidak wajar yakni kapal serabut kelapa yang mendarat langsung di Teluk Jor sehingga nama tempat persinggahan mereka disebut Jor yang sebelumnya nama daerah tersebut bernama Badui. Namun beberapa tahun silam, setelah masyarakat setempat mendengar ataupun mengetahui sejarah tersebut maka masyarakat setempat mengganti nama Badui menjadi Jor.
Narasumber mengatakan bahwa tokoh ulama dari timur tengah ini datang berdua bersama seorang pengawal. Hal ini di dukung menurut tradisi jauh sebelum masehi seorang tokoh tidak mungkin berpergian sendirian pasti membawa seorang pengawal. Sehingga merujuk dari versi pertama sampai ke tiga itu memiliki kesamaan. Jikalau kita analisa kebiasaan ketika seseorang mendatangi sebuah tempat baru yang bertujuan untuk menetap lama maka hal pertama yang menjadi kebutuhan primernya adalah air.
Setelah meneliti keadaan sekitar bisa jadi ulama dari timur melanjutkan perjalanannya menyusuri pinggiran pantai sampai pada lokasi tempat sumur atau Lingkok Tutuk berada dan disana ulama dari timur ini langsung membuat sumur dan tidak menutup kemungkinan ulama beserta pengawalnya inilah yang melempar batu dan alat pembuat sumur tersebut yang kemudian di jadikan sebagai simbolik dalam pembuatan Bale Beleq dan masjid.
Pada versi ke-4 lebih membahas mengenai situs Bale Beleq dibanding siapa yang membangun situs tersebut. Masyarakat desa meyakini, Bale Beleq dibangun oleh satu orang yang sama secara serentak dalam satu hari di mulai pada jam yang sama dan selesai juga pada jam yang sama di beberapa tempat berbeda, seperti di Rambitan, Selaparang, Lendang Nangka dan Jerowaru. Hal ini disebabkan karena bentuk fisik bangunan tersebut sama. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan narasumber yang telah meng-observasi terkait situs sejarah yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal tersebut kemudian dianggap sebagai tanda awal masuknya Islam di Lombok karena narasumber meyakini bahwa Bale Beleq ini dibangun oleh tokoh agama yang menyebarkan agama Islam dikarenakan pemilihan arah kiblat sangat tepat dan akurat sesuai arah kompas,
Berbicara mengenai awal proses pembangunan Bale Beleq, menurut pengakuan dari narasumber yang diambil dari isi sebuah takepan (Daun Lontar). Bahwasanya pemerintahan yang ada di desa Jerowaru itu sudah ada sejak tahun 1300 masehi. Dengan melihat tahun awal terbentuknya masa pemerintahan di Jerowaru bisa disimpulkan bahwa ketika sebuah pemerintahan terbentuk, maka kelompok masyarakat sudah mulai berkembang sehingga bangunan-bangunan seperti Bale Beleq sudah dibangun jauh sebelum 1300 M.